Kekerasan Simbolik dalam Tayangan Hiburan Perbukers ANTV

  • Desi Nagita Universitas Jenderal Soedirman
Keywords: symbolic violence; telvision; content analysis; Pesbukers

Abstract

Artikel ini bertujuan mengidentifikasi simbol-simbol yang mengandung kekerasan simbolik dalam tayangan Perbukers ANTV. Artikel ini ditulis berdasarkan penelitian yang menggunakan metode analisis isi dan semiotika. Sampel penelitian berjumlah 122 tayangan Perbukers. Artikel ini menunjukkan ada beberapa simbol kekerasan simbolik yang muncul melalui tiga konsep dasar kekerasan simbolik, yaitu consent and complicity,  misrecognition, dan condescension. Konsep consent and complicity diamati berdasarkan penampilan pemain seperti laki-laki yang menggunakan pakaian perempuan, perempuan berpakaian seksi, pemain yang menggunakan pakaian tidak sesuai seperti pakaian daerah dan pakaian aneh serta penggunaan aksesoris bermerek. Misrecognition terjadi melalui gambaran habitus kelas atas dan kelas bawah seperti kebiasaan, profil, barang (kepemilikan), serta lingkungan. Kedua habitus kelas ini diciptakan sebagai bentuk mekanisme kekerasan yang tidak terdeteksi, sehingga penonton akan menganggap sebagai hal yang biasa dan wajar. Konsep ketiga yaitu condescension terjadi melalui ejekan masalah pribadi, fisik, serta ejekan intelektual, selain itu terdapat tingkah laku pemain seperti memukul, menirukan tokoh tertentu, serta pelecehan terhadap perempuan. 

This article aims to identify symbols that contain symbolic violence in ANTV Perbukers shows. This article is written research using the method of content analysis and semiotics. The research sample amounted to 122 Perbukers impressions. This article shows that there are several symbols of symbolic violence that arise through three basic concepts of symbolic violence, namely consent and complicity, misrecognition, and condescension. The concept of consent and complicity is observed based on the appearance of players such as men who wear women’s clothing, women dressed in sexy clothes, players who wear inappropriate clothes such as regional clothes and strange clothes and the use of branded accessories. Misrecognition occurs through upscale and lower class habitus features such as habits, profiles, property, and environment. Both of these class habitus were created as a form of mechanism of violence that was not detected, so that the audience would regard it as normal and natural. The third concept, condescension, occurs through ridicule of personal, physical, and intellectual ridicule, in addition there are player behaviors such as hitting, imitating certain characters, and harassment of women.

References

Bourdieu, Pierre. 1990. The Logic of Practice. Dialihbahasakan oleh Richard Nice.
Bourdieu, Pierre. 1991. Language and Symbolic Power. Dialihbahasakan oleh Gino Raymond dan Matthew Adamson.
Bungin, Burhan. 2006. Metode Penelitian Kuantitatif Edisi Pertama. Jakarta: Penerbit Kencana.
Elhasanai, Nur Hudda. 27 Mei 2013. Kompasiana. “Surjan dan Beskap”.
Fashri, Fauzi. 2007. Penyingkapan Kuasa Simbol Apropriasi Reflekstif Pemikiran Pierre Bourdieu. Yogyakarta : Penerbit Juxtapose.
Hasnah, Nurhayati. 2015. Representasi Kekerasan Simbolik pada Tubuh Perempuan dalam Media Massa Online Khusus Perempuan (Studi Kasus Terhadap Rubrik Fashion dan Beauty Website Wolipop). Skripsi. Jurusan Sosiologi dan Antropologi Universitas Negeri Semarang.
Lely. 26 Juli 2017. Newsth.com. “Ayu Ting Ting Kembali, Ini Perolehan Rating Pesbukers”.
Martono, Nanang. 2012. Kekerasan Simbolik di Sekolah Sebuah Ide Sosiologi Pendidikan Pierre Bourdieu. Jakarta : PT RajaGrafindo Persada.
Munfarida, Elya. 2010. Kekerasan Simbolik Media terhadap Anak. Jurnal Dakwah dan Komunikasi. Vol 4 No.1 Januari-Juni 2010 pp 72-90.
Musarrofa, Ita. 2015. Mekanisme Kekerasan terhadap Perempuan dalam Rumah Tangga Perspektif Teori Kekerasan Simbolik Pierre Bourdieu. Asy-Syir’ah Jurnal Ilmu Syari’ah dan Hukum. Vol. 49 No.2 Desember 2015.
Nicolaescu, Cristina. 2010. Bourdieu-Habitus, Symbolic Violence, The Gift:“You Give Me/I Give You” Principle. “Dimitrie Cantemir” Christian University. Volume 1 no. 3 September 2010.
Piliang, Yasraf Amir. 2004. Posrealitas Realitas Kebudayaan dalam Era Posmetafisika. Yogyakarta: Jalasutra.
Prabasmoro, Aquarini Priyatna. 2006. Kajian Budaya Feminis Tubuh, Sastra, dan Budaya Pop. Yogyakarta: Jalasutra.
Recuero, Raquel. 2015. Social Media and Symbolic Violence. April-June 2015. Catholic University of Pelotas, Goncaves Chalves, 373, 96015-560, Pelotas, RS, Brazil.
Sobur, Alex. 2004. Cetakan ke-2. Semiotika Komunikasi. Bandung : PT Remaja Rosdakarya.
Sobur, Alex. 2009. Analisis Teks Media Suatu Pengantar untuk Analisis Teks Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Suryanti, Dewi. 2016. Kekerasan Simbolik Tayangan Drama Seri Korea Terhadap Perilaku Remaja Asrama Putri Kabupaten Kutai Timur. Ejournal Sosiatri-Sosiologi Vol 4 No 2.
Susan, Novri. 2009. Pengantar Sosiologi Konflik dan Isu-isu Konflik Kontemporer. Jakarta: Penerbit Kencana.
Taqwa, G.K dan FX Sri Sadewo. Kekerasan Simbolik pada Perempuan Janda di Kabupaten Sidoarjo. Paradigma Vol 4 No 3.
Trammel, Rebecca. 2011. Symbolic Violence and Prison Wives : Gender Roles and Protective Pairing in Men’s Prisons. School of Criminology and Criminal Justice. University of Nebraska at Omaha, USA.
Published
2019-09-26
How to Cite
Nagita, D. (2019). Kekerasan Simbolik dalam Tayangan Hiburan Perbukers ANTV. Jurnal Sosiologi Indonesia, 9(2), 199-222. Retrieved from http://jurnal.isi-sosiologi.org/index.php/JSI/article/view/21
Section
Articles